Tokoh-Tokoh Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Nama : Ajeng Anggraeni
Kelas : X MIPA 2
Sekolah : SMA CENDERAWASIH 1 JAKARTA
Muhammad
bin Zakariya ar-Razi
Abu Bakar Muhammad
bin Zakaria ar-Razi (Persia:أبوبكر
الرازي) atau dikenali
sebagai Rhazes di dunia barat
merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930. Ia
lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.
Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan
kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di
Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah
sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.
Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan
dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.
Biografi
Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Masehi dan
meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Masehi. Nama Razi-nya berasal dari nama
kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi
Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini juga, Ibnu Sina
menyelesaikan hampir seluruh karyanya.
Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi
atau musisi tetapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya
yang ke-30, ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi
dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian
dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah ar-Razi
mulai mempelajari ilmu kedokteran.
Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari,
seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang
Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah
untuk menjadi pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah,
al-Mu'tashim.
ar-Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal sebagai
seorang dokter disana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada
masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. ar-Razi juga menulis
at-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa
tahun kemudian, ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan
menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad.
Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi,
ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia
mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist,
ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu,
ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada
pasiennya saat berobat kepadanya.
Kontribusi
Bidang Kedokteran
Cacar dan campak
Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad,
ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar:
"Cacar terjadi
ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan
mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti
ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya
seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk
gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa
kanak-kanak, tetapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit
ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar
bisa menjadi epidemi."
Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis: "Pernyataan
pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada
karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan
gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi
anggur dan cara mencegah wabah tersebut."
Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak)
adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah
yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan
bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada
prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir
ar-Razi dalam buku ini.
Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi: "Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang
berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk
ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut
bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan
dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala
lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada
tenggorokan."
Alergi dan demam
Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan
penyakit "alergi asma", dan ilmuwan pertama yang menulis tentang
alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya
penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. ar-Razi juga
merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk
melindungi diri.
Farmasi
Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat
peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. ar-Razi juga mengembangkan
obat-obatan yang berasal dari merkuri.
Etika kedokteran
Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika
kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengritik dokter jalanan palsu dan
tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat
yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban
atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang
secara manusiawi sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang
dokter, ar-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari
informasi baru. Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa
disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa
seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit
kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa
dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya
anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter.
Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah
untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk
masyarakat sekitar.
Abu al-Qasim al-Zahrawi
pada masa Islam abad Pertengahan. Karya terkenalnya adalah Al-Tasrif, kumpulan
praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid.
Abul Qasim lahir di Zahra, yang terletak di sekitar Kordoba,
Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia dikenal dengan nama "El
Zahrawi". Al-Qasim adalah dokter kerajaan pada masa Khalifah Al-Hakam II
dari kekhalifahan Umayyah.
Al-Tasrif
Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran,
termasuk di antaranya tentang gigi dan
kelahiran anak. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerardo dari
Cremona pada abad ke-12, dan selama lima abad Eropa Pertengahan, buku ini
menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran di Eropa.
Dalam kitab yang diwariskannya bagi peradaban dunia itu,
Al-Zahrawi secara rinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedi,
opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga
mengupas tentang kosmetika. Al-Zahrawi pun ternyata begitu berjasa dalam bidang
kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodoran, hand lotion, pewarna
rambut yang berkembang hingga kini merupakan hasil karya Al-Zahrawi.
Popularitas Al-Zahrawi sebagai dokter bedah yang andal
menyebar hingga ke seantero Eropa. Tak heran, bila kemudian pasien dan anak
muda yang ingin belajar ilmu kedokteran dari Abulcasis berdatangan dari
berbagai penjuru Eropa. Menurut Will Durant, pada masa itu Cordoba menjadi
tempat favorit bagi orang-orang Eropa yang ingin menjalani operasi bedah. Di puncak
kejayaannya, Cordoba memiliki tak kurang 50 rumah sakit yang menawarkan
pelayanan yang prima.
Dalam menjalankan praktik kedokterannya, Al-Zahrawi menankan
pentingnya observasi tertutup dalam kasus-kasus individual. Hal itu dilakukan
untuk tercapai – nya diagnosis yang akurat serta kemung – kin an pelayanan yang
terbaik. Al-Zahrawi pun selalu mengingatkan agar para dokter untuk berpegang
pada norma dan kode etik kedokteran, yakni tak menggunakan profesi dokter hanya
untuk meraup keuntungan materi.
Menurut Al-Zahrawi profesi dokter bedah tak bisa dilakukan
sembarang orang. Pada masa itu, dia kerap mengingatkan agar masyarakat tak
melakukan operasi bedah kepada dokter atau dukun yang mengaku-ngaku memiliki
keahlian operasi bedah. Hanya dokter yang memiliki keahlian dan bersertifikat
saja yang boleh melakukan operasi bedah. Mungkin karena itulah di era modern
ini muncul istilah dokter spesialis bedah (surgeon).
Berikut ini adalah karya ar-Razi pada bidang kedokteran
yang dituliskan dalam buku:
Hidup yang Luhur (Arab: الحاوي).
Petunjuk kedokteran untuk masyarakat umum (Arab:من لا يحضره
الطبيب)
Keraguan pada Galen
Penyakit pada anak
Pandangan tentang
agama
Sejumlah karya dan pernyataan kontradiktif tentang agama
telah dianggap berasal dari Razi. Menurut Bibliografi Razi al-Biruni (Risāla
fih Fihrist Kutub al-Rāzī), Razi menulis dua "buku sesat":
"Fī al-Nubuwwāt (Tentang Nubuat) dan" Fī Ḥiyal
al-Mutanabbīn (Tentang Trik Nabi Palsu). Menurut Biruni, yang pertama
"diklaim bertentangan dengan agama" dan yang kedua "diklaim
menyerang kebutuhan para nabi.”Dalam Risala-nya, Biruni lebih lanjut mengkritik
dan menyatakan hati-hati tentang pandangan agama Razi, mencatat pengaruh
Manichaeisme. Namun, Biruni juga mendaftar beberapa karya Razi lain tentang
agama, termasuk Fi Wujub Da'wat al-Nabi 'Ala Man Nakara bi al-Nubuwwat
(Kewajiban untuk Menyebarkan Ajaran Nabi Terhadap Mereka yang Membantah Nubuat)
dan Fi anna li al -Insan Khaliqan Mutqinan Hakiman (Manusia itu memiliki
Pencipta yang Bijaksana dan Sempurna), terdaftar di bawah karya-karyanya
tentang "ilmu ilahi". Tak satu pun dari karyanya tentang agama
sekarang ada sepenuhnya.
Pandangan dan kutipan lain yang sering dianggap berasal dari
Razi ditemukan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Abu Hatim al-Razi, yang
disebut Aʿlām al-nubuwwa (Tanda-Tanda Nubuat), dan bukan dalam karya Razi yang
masih ada. Abu Hatim adalah seorang misionaris Isma'ili yang memperdebatkan
Razi, tetapi apakah dia dengan setia mencatat pandangan-pandangan Razi masih
diperdebatkan.Menurut Abdul Latif al-'Abd, profesor filsafat Islam di
Universitas Kairo, Abu Hatim dan muridnya, īamīd al-dīn Karmānī (wafat setelah
411 H / 1020 M), adalah ekstremis Isma'ili yang sering salah mengartikan pandangan
Razi dalam karya mereka. Pandangan ini juga dikuatkan oleh para sejarawan awal
seperti al-Shahrastani yang mencatat "bahwa tuduhan seperti itu harus
diragukan sejak dibuat oleh Ismailiyah, yang telah diserang oleh Muḥammad ibn
Zakariyyā Rāzī".
Al-'Abd menunjukkan bahwa pandangan yang diduga diungkapkan
oleh Razi bertentangan dengan apa yang ditemukan dalam karya-karya Razi
sendiri, seperti Pengobatan Spiritual (Fī al-ṭibb al-rūḥānī).[5] Peter Adamson
sependapat bahwa Abu Hatim mungkin "sengaja salah menggambarkan"
posisi Razi sebagai penolakan terhadap Islam dan mengungkapkan agama. Sebagai
gantinya, Razi hanya berdebat menentang penggunaan mukjizat untuk membuktikan
ramalan Muhammad, antropomorfisme, dan penerimaan yang tidak kritis terhadap
taqlid melawan naẓar.[4] Adamson menunjukkan karya Fakhr al-din al-Razi di mana
Razi dikutip mengutip Al-Quran dan para nabi untuk mendukung pandangannya.
Beberapa sejarawan, seperti Paul Kraus dan Sarah Stroumsa,
menerima bahwa kutipan yang ditemukan dalam buku Abu Hatim dapat dikatakan oleh
Razi selama debat atau dikutip dari karya yang sekarang hilang. Mereka
berpendapat bahwa karya yang hilang ini adalah al-ʿIlm al-Ilāhī yang terkenal
atau karya independen lain yang lebih pendek yang disebut Makharīq al-Anbiyāʾ
(Trik Penipuan Para Nabi). Namun, Abu Hatim tidak secara eksplisit menyebut
nama Razi dalam bukunya, tetapi menyebut lawan bicaranya hanya sebagai mulḥid
(lit. "zindik").Menurut perdebatan dengan Abu Hatim, Razi menyangkal
keabsahan nubuat atau tokoh otoritas lainnya, dan menolak mukjizat kenabian.
Dia juga mengarahkan kritik pedas pada agama-agama yang diwahyukan dan kualitas
menakjubkan dari Quran. Karena tampaknya tidak terkendali oleh tradisi agama
atau filosofis apa pun, Razi akhirnya dikagumi sebagai pemikir bebas.
Ibnu Sina
Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai "Avicenna"
di dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Persia
(sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif yang sebagian besar
karyanya adalah tentang filosofi dan kedokteran. Bagi banyak orang, dia adalah
"Bapak Kedokteran Modern". Karyanya yang sangat terkenal adalah
al-Qānūn fī aṭ-Ṭibb yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama
berabad-abad.
Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh
bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina, Arab : أبو علي الحسين
بن عبد الله بن
سينا). Ibnu Sina lahir
pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan dan
meninggal bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok
bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran.
" George Sarton menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling terkenal dari
Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat dan
waktu". Karyanya yang paling terkenal adalah Kitab Penyembuhan dan Qanun
Kedokteran (Al-Qanun fi At Tibb).
Latar Belakang
Ibnu Sina merupakan
seorang filsuf, ilmuwan, dokter, dan penulis aktif yang lahir di zaman keemasan
Peradaban Islam. Pada zaman tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak
menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks
Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles secara intensif
banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam.
Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh
Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa ini meliputi matematika,
astronomi, Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan.[4]. Pada zaman Dinasti
Samayid dibagian timur Persian wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid dibagian
barat Iran dan Persian memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan
dan budaya. Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat
budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.[5]
Ilmu-ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist
berkembang dengan perkembangan dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti
ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa
itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu
pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar
di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota
Isfahan dan Hamedan. Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak
koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu
Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur
seorang matematikawan terkenal dan sangat teliti, Abu al-Khayr Khammar seorang
fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.
Biografi
Kehidupan awal
Ibnu Sina lahir 980 masehi di Afsana, sebuah desa dekat
Bukhara (sekarang dikenal dengan Uzbekistan), ibukota Samaniyah, sebuah dinasti
Persia di Central Asia dan Greater Khorasan. Ibunya, bernama Setareh, berasal
dari Bukhara; ayahnya, Abdullah, adalah seorang Ismaili yang dihormati, sarjana
dari Balkh, sebuah kota penting dari Kekaisaran Samanid (sekarang dikenal
dengan provinsi Balkh, Afghanistan). Ayahnya bekerja di pemerintahan Samanid di
desa Kharmasain, kekuatan regional Sunni. Setelah lima tahun, adiknya, Mahmoud
lahir. Ibnu Sina sejak kecil mulai mempelajari Al-Quran dan sasta, kira-kira
sebelum ia berusia 10 tahun.
Sejumlah teori telah diusulkan mengenai madhab (pemikiran
dalam islam) Ibnu Sina. Sejarawan abad pertengahan Zahir al-din al-Baihaqi (d.
1169) menganggap Ibnu Sina menjadi pengikut Ikhwan al-Safa. Di sisi lain,
Dimitri Gutas bersama dengan Aisha Khan dan Jules J. Janssens menunjukkan bahwa
Avicenna adalah Sunni Hanafi. Namun, abad ke-14 Shia faqih Nurullah Shushtari
menurut Seyyed Hossein Nasr, menyatakan bahwa ia kemungkinan besar adalah
bermadhab Dua Belas Syiah. Sebaliknya, Sharaf Khorasani, mengutip penolakan
undangan dari Gubernur Sunni Sultan Mahmud Ghazanavi oleh Ibnu Sina di
istananya, percaya bahwa Ibnu Sina adalah Ismaili. Perbedaan pendapat serupa
ada pada latar belakang keluarga Avicenna, sedangkan beberapa penulis
menganggap mereka Sunni, beberapa lagi menganggap bahwa dia adalah Syiah.
Menurut otobiografinya, Ibnu Sina telah hafal seluruh
Quran pada usia 10 tahun. Ia belajar aritmetika India dari pedagang sayur India
Mahmoud Massahi dan ia mulai belajar lebih banyak dari seorang sarjana yang
memperoleh nafkah dengan menyembuhkan orang sakit dan mengajar anak muda. Dia
juga belajar Fiqih (hukum Islam) di bawah Sunni Hanafi sarjana Ismail al-Zahid.
Sebagai seorang remaja, dia sangat bingung dengan teori
Metafisika Aristoteles, yang ia tidak bisa mengerti sampai dia membaca komentar
al-Farabi pada pekerjaan. Untuk tahun berikutnya, ia belajar filsafat, di mana
ia bertemu lebih besar rintangan. Pada saat-saat seperti ini, dia akan
meninggalkan buku-bukunya, melakukan wudhu, kemudian pergi ke masjid dan terus
berdoa sampai hidayah menyelesaikan kesulitan-kesulitannya. Jauh malam, ia akan
melanjutkan studi dan bahkan dalam mimpinya masalah akan mengejar dia dan
memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari
Aristoteles, sampai kata-kata itu dicantumkan pada ingatannya; tetapi artinya
tak jelas, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat
oleh Farabi, yang dibelinya di sebuah toko buku seharga kurang dari tiga
dirham. Begitu besar kegembiraannya atas penemuannya itu, yang dibuat dengan
bantuan sebuah karya dari yang telah diperkirakan hanya misteri, bahwa ia
bergegas untuk kembali, berterima kasih kepada Tuhan dan diberikan sedekah atas
orang miskin.
Dia beralih ke
pengobatan di usia 16 dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi juga
menemukan metode baru pengobatan. Anak muda ini memperoleh status penuh sebagai
dokter yang berkualitas pada usia 18 dan menemukan bahwa "Kedokteran
adalah ilmu yang sulit ataupun berduri, seperti matematika dan metafisika,
sehingga saya segera membuat kemajuan besar, saya menjadi dokter yang sangat
baik dan mulai merawat pasien, menggunakan obat yang disetujui". Ketenaran
Ibnu Sina menyebar dengan cepat dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta
bayaran.
Masa Dewasa
Janji pertama Ibnu Sina adalah bahwa emir Nuh II yang
berhutang padanya pemulihan dari penyakit berbahaya (997), Ibnu Sina
berhasil mendapat akses ke perpustakaan kerajaan Samaniyah. Ketika perpustakaan
dihancurkan oleh api tidak lama setelah itu, musuh-musuh Ibnu Sina menuduhnya
membakar perpustakaan dan dituduh menyembunyikan sumber pengetahuannya hanya
untuk dirinya. Sementara itu, ia membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi
tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awal.
Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ia kehilangan ayahnya.
Dinasti Samanid telah berakhir pada bulan Desember 1004. Ibnu Sina tampaknya
telah menolak tawaran Mahmud dari Ghazni dan menuju kearah Barat ke Urgench di
Turkmenistan modern, di mana wazir, dianggap sebagai teman sarjana, memberinya
uang saku bulanan yang kecil. Ibnu Sina lalu mengembara dari satu tempat ke
tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan. Qabus,
penguasa yang murah hati di Tabaristan, dirinya seorang penyair dan sarjana,
yang mana Ibnu Sina mengharapkan menemukan suaka, pada sekitar tanggal tersebut
(1012) mati kelaparan oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada
saat ini dilanda penyakit parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspia, Ibnu
Sina bertemu dengan seorang teman, yang membeli sebuah rumah di dekat rumahnya
sendiri di mana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa risalah Ibnu
Sina ditulis untuk pelindung ini dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga
ditulis saat ia menetap di Hyrcania.
Ibnu Sina kemudian menetap di Rey, di sekitar Teheran
modern, kota asal Rhazes; mana Majd Addaula, putra dari Buwaihi emir terakhir,
adalah penguasa nominal di bawah Kabupaten ibunya (Seyyedeh Khatun). Sekitar
tiga puluh karya Ibnu Sina dikatakan telah disusun dalam Rey. permusuhan
konstan yang berkecamuk antara bupati dan putra keduanya, Shams al-Daulah,
bagaimanapun, memaksa sarjana untuk berhenti tempat. Setelah tinggal singkat di
Qazvin ia lulus arah selatan ke Hamadan mana Shams al-Daulah, Buwaihi emir
lain, telah memantapkan dirinya. Pada awalnya, Ibnu Sina mengadakan pelayanan
seorang wanita tinggi lahir; tetapi emir, mendengar kedatangannya, memanggilnya
sebagai petugas medis, dan mengirimnya kembali dengan hadiah ke tempat
tinggalnya. Ibnu Sina bahkan diangkat ke kantor wazir. emir memutuskan bahwa ia
harus dibuang dari negeri. Ibnu Sina, bagaimanapun, tetap tersembunyi selama
empat puluh hari di rumah syekh Ahmed Fadhel, sampai serangan segar penyakit
yang disebabkan emir untuk mengembalikan dia ke posnya. Bahkan selama terganggu
ini, Ibnu Sina bertahan dengan studi dan ajaran-Nya. Setiap malam, ekstrak dari
karya-karya besarnya, Canon dan Sanatio, ungkapkan dan menjelaskan kepada
murid-muridnya. Pada kematian emir, Ibnu Sina berhenti menjadi wazir dan
bersembunyi di rumah seorang apoteker, di mana, dengan ketekunan intens, ia
melanjutkan komposisi karya-karyanya.
Sementara itu, ia telah menulis untuk Abu Ya'far, prefek
kota dinamis Isfahan, menawarkan jasanya. Emir baru Hamadan, mendengar
korespondensi ini dan menemukan di mana Ibn Sina bersembunyi, dipenjara dia di
sebuah benteng. Sementara perang terus antara penguasa Isfahan dan Hamadan; di 1024 mantan ditangkap Hamadan dan
kota-kota, mengusir tentara bayaran Tajik. Ketika badai berlalu, Ibnu Sina
kembali dengan emir ke Hamadan, dan dilakukan pada tenaga kerja sastra.
Kemudian, ditemani oleh saudaranya, murid favorit, dan dua budak, Ibnu Sina
melarikan diri dari kota menggunakan gaun bernuansa Sufi. Setelah perjalanan
berbahaya, mereka mencapai Isfahan, menerima sambutan terhormat dari pangeran.
Sisa Hidup
Sisa sepuluh atau dua belas tahun hidup Ibnu Sina ini
dihabiskan dalam pelayanan dari Kakuyid penguasa Muhammad bin Rustam
Dushmanziyar (juga dikenal sebagai Ala al-Dawla), yang ia didampingi sebagai
dokter, sastra, dan penasihat ilmiah, bahkan dalam berbagai kampanye nya .
Selama tahun ini ia mulai belajar hal-hal sastra dan
filologi. Sebuah kolik parah, yang menangkap dia di barisan tentara terhadap
Hamadan, diperiksa oleh obat sehingga kekerasan yang Ibnu Sina nyaris tak bisa
berdiri. Pada kesempatan yang sama penyakit itu kembali; dengan kesulitan ia
mencapai Hamadan, di mana, menemukan penyakit mendapatkan tanah, ia menolak
untuk mengikuti rejimen yang dikenakan, dan mengundurkan diri dirinya untuk
nasibnya.
Teman-temannya menyarankan dia untuk memperlambat dan
mengambil hidup cukup. Dia menolak, bagaimanapun, menyatakan bahwa:. "Saya
lebih memilih hidup yang pendek dengan lebar untuk satu sempit dengan
panjang" Pada penyesalan ranjang kematiannya menangkapnya; ia diberikan
barang nya pada orang miskin, dipulihkan keuntungan yang tidak adil,
membebaskan budak, dan membaca Al-Quran setiap tiga hari sampai kematiannya. Ia
meninggal pada Juni 1037, pada tahun kelima puluh kedelapan, dalam bulan
Ramadan dan dimakamkan di Hamadan, Iran.
Umat Islam jaman sekarang lebih mementingkan tekhologi dan perkembangan zaman yang sudah berkembang daripada keilmuwan yang telah dibangun oleh Tokoh Tokoh Islam yang penemuannya berdasarkan Al - Qur'an
Menurut saya Umat Islam jaman sekarang tertinggal dengan umat lain dikarenakan tidak memegang teguh pada syariat syariat yang ada di dalam Al-Qur'an dan hadist.
Dengan memperdalam dan mempelajari ilmu Al-Qur'an dan Hadist mereka akan memiliki wawasan luas . Karena didlam Al-Qur'an dan Hadist terdapat banyak ilmu yang dapat kita pahami
Komentar
Posting Komentar